Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Monday, October 16, 2017

[Ulasan + Giveaways] Jejak Cinta, 20 Tahun Berlalu



Mencari seseorang yang telah menjejakkan kenangan 20 tahun yang lalu, tanpa informasi yang jelas, bukan perkara mudah. Itulah yang terus berputar di benak Abby ketika Paman Ben memilih dia dan Keegan menemani pencariannya. Paman Ben, pria eksentrik 40 tahun yang tidak dapat melepaskan bayangan Rinjani, perempuan yang dicintainya 20 tahun silam. Patah hati ternyata bisa membuat hidup seseorang terkungkung selama 20 tahun.

“… apakah kamu bisa mengganti orang yang hilang dengan yang baru? Tidak. Karena kalau kita bicara tentang orang, kita bicara tentang emosi, kenangan, dan semua hal yang rasakan terhadapnya, yang tidak kita rasakan terhadap orang lain.” ~ Paman Ben - h.167

Perjalanan yang terasa tidak masuk akal ini ternyata tidak membuat keluarga Hadison melarang kepergian Paman Ben. Keluarga besar yang SANGAT mencintai kebersamaan ini, malah mendukung 100%, demi tak ingin kehilangan kembali Paman Ben yang sempat ‘melarikan-diri’ ke tanah Leiden, Belanda selama 20 tahun. Tinggallah Abby yang harus rela menjadi “partner in crime” Paman Ben, bersama Keegan.

Nah, salah satu yang membuatku jatuh cinta dalam buku ini adalah Keluarga Hadison yang terasa kehangatannya setiap kali anggota keluarga berinteraksi. Terutama saat para sepupu beraksi, kekocakan pasti hadir dalam alur cerita. Penulis menggambarkan, bahwa tidak selalu tinggal bersama orangtua itu menyedihkan tapi bisa jadi kekuatan, apalagi didukung dengan kekompakan dan keahlian masing-masing. Rasanya seperti mempunyai ‘negeri’ sendiri. Sebuah latar lakon yang sangat mendukung cerita.

Perjalanan dimulai dari Mandeh, tempat sahabat Paman Ben yang diperkirakan mengetahui sedikit info tentang Bu Rinjani. Sayangnya, lagi-lagi info yang didapatkan Paman Ben tidak sesuai keinginan dan membuat Abby-Keegan harus ‘tepok-jidat’ berkali-kali. Di sisi lain, interaksi Abby-Keegan, yang berseberangan dalam menyikapi perjalanan Paman Ben ini menambah konflik dalam alur.

“Sesuatu yang mematahkan  hatinya puluhan tahun lalu. Bu Rinjani yang sudah membuatnya down dua puluh tahun lalu, boleh jadi akan melakukan yang sama kali ini.” ~ Abby – h. 118

“Dia tahu, Abby, tapi dia memilih menjalani ini supaya dia tahu kebenarannya. Dia mencari kebenaran. Mengerti?!” ~ Keegan – h. 121

Sepanjang perjalanan tidak melulu berisikan kesedihan seorang pria yang menyimpan kenangan, tapi interaksi yang tak ayal membuat tersenyum, meski diliputi kejengkelan. Ceplosan-ceplosan seperti senyum selebar nampan atau pengartian ekspresi yang menyiratkan banyak makna, menjadi kekocakan yang mewarnai sebagian besar alur. Selain itu, wisata alam dan kuliner yang diperkenalkan penulis digambarkan dengan menggiurkan, serasa mengikuti acara Pak Bondan ‘Maknyus’.

Satu lagi, yang menarik adalah gambaran karakter remaja, yang menginjak dewasa, dalam novel Jejak Cinta layak diacungi jempol. Beberapa karakternya menunjukkan meski usia tergolong muda, mereka telah memiliki impian dan tujuan hidup, walau tetap saja sikap jail dan suka menggoda mewarnai interaksi mereka. Bakalan menarik jika Novel Jejak Cinta diangkat ke dalam film sembari mengenalkan kuliner dan wisata alam Provinsi Sumatera Barat.

Jejak Cinta, 20 Tahun Berlalu | Maya Lestari Gf | PastelBooks | Pertama, Agustus 2017; 290 hlm

****

 GIVEAWAYS JEJAK CINTA, 20 TAHUN BERLALU

Salam Baca!!

Sudah baca ulasan Jejak Cinta, kan? karena nantinya ada pertanyaan yang berkaitan dengan ulasan di atas.

Nah, saatnya giveaways!! Ada hadiah 1 novel #JejakCinta karya Mbak @mayalestarigf yang diterbitkan @pastelbooks.id untuk kamu yang beruntung. .
.
Caranya gampang banget :
  1. Share ulasan ini di akun twittermu dengan hastag #GAJejakCinta20th
  2. Follow akun twitter @mayalestarigf dan  @sinta_nisfuanna
  3. Sebutkan akun twittermu dan jawab dua pertanyaan di kolom komentar, "kalimat 'senyum selebar nampan' terletak pada paragraf berapa?" dan "Mengapa kamu menginginkan novel ini?"
  4. Bersedia mereview novel ini di blog atau akun facebook.
  5. Akun tidak diprivate
  6. Giveaway ini dimulai dari tanggal 16 - 22 Oktober 2017
Btw, ada giveaways #JejakCinta satu lagi yang bisa kamu ikuti di Instagram @sinta.705
Share:

Sunday, October 8, 2017

Honeymoon For Sophie


“Setelah adikmu menikah, kamu juga harus segera menikah. Kalau perlu, Ibu cariin calonnya.” ~ h, 14

Mona harus berhadapan dengan semakin gencarnya kekhawatiran susah-jodoh dari sang Ibu, sejak Sophie memutuskan menikah dengan pacar bulenya. Namun, yang lebih mengkhawatirkan Mona adalah pacar Sophie, Maxi, yang tidak jelas dan baru dikenalnya selama 6 bulan. Selain itu, kepenatan Mona tidak hanya berputar di masalah keluarganya, tapi juga bos yang dianggapnya killer.

Di sisi lain, keputusan dadakan Sophie, menghebohkan keluarganya. Sophie sedang mabuk kepayang dan dipenuhi bayangan romantisme hidup bersama Maxi. Sayang, hidup tak seindah bayangan hingga tragedi dan utang menjadikan Sophie harus kejar-kejaran dengan Maxi.

Alur cerita disusun dari dua sudut pandang, Mona dan Sophie. Sebenarnya, judul buku agak gak adil karena sangkaan awal cerita berfokus pada Sophie, padahal porsi cerita kehidupan Mona pun tak kalah besar dalam cerita. Tapi, alur cerita Sophie menurutku lebih menarik daripada Mona yang terkesan mulus. Selain itu, karakter tokoh bos Mona yang dikatakan killer, tidak tergambar dengan baik karena dari awal interaksi Mona dan bosnya, Adrian, ‘baik-baik saja’.

Memang benar, faktor umur sangat mempengaruhi kenikmatan membaca, apalagi kalau sudah berstatus emak-emak. Tipe ceritanya lebih cucok bagi penyuka teenlit/metropop dan kemungkinan besar bisa bikin yang baca senyum-senyum dengan sindiran-sindiran sinisnya. Tapi, untukku sendiri, alur ceritanya kurang halus, terutama perasaan Mona.

Bagian yang menarik dan berhasil membuatku bertahan membaca Honeymoon for Sophie adalah Ide kuisioner dan surat pembaca di setiap akhir bab. Bisa dibilang, aku selalu penasaran dengan kuisioner berikutnya, selama membaca. Konyol, bahkan ada kuisioner yang membuatku tertawa.

Honeymoon For Sophie | Retha | Bhuana Ilmu Populer | 2016 ; 264 hlm | 2/5 bintang
Share:

Monday, October 2, 2017

Mr. Mercedes



“Mr. Mercedes menginginkan Hodges bunuh diri. Hodges bertanya-tanya apa yang dipikirkan penjahat itu seandainya dia tahu dirinya justru sudah memberi mantan Knight of Badge and Gun ini alasan untuk hidup. Setidaknya untuk sementara waktu.” ~ Hodges - h.54.

Status baru Hodges sebagai pensiunan Detektif membuat hidupnya monoton dan terasa tidak berguna. Duduk termenung, menonton televisi sambil memainkan revolver milik ayahnya. Rutinitasnya sekejab berubah ketika surat meremehkan dan provokatif Mr. Mercedes berada di tangannya. Mr. Mercedes, pembunuh puluhan antrian pencari kerja dengan motif kepuasan.

Hodges adalah Detektif yang menangani kasus tersebut, dan hingga melewati masa pensiun, kasus belum terpecahkan. Gairah Hodges menjerat si pembunuh, sama besar dengan keinginan sang pelaku menyaksikan revolver meledakkan kepala Hodges. Brady Hartfield, pelaku yang kesehariannya bekerja sebagai penjual es krim dan teknisi komputer. Pekerjaan yang membuatnya leluasa mengawasi sekitarnya, tanpa orang lain sadari, termasuk rumah si Pensiunan Detektif.

Diceritakan dari dua sudut pandang, Hodges dan Brady, membuat aura persaingan sangat terasa. Satu pihak mengejar, pihak lain mengawasi. Usaha Hodges menganalisa kepribadian pelaku dari barisan dan struktur kata surat sangat menarik, termasuk menganalisa kembali sosok Mrs. Trelawney, pemilik mobil Mercedes. Dari sisi lain, kegilaan isi kepala Brady tergambar kuat dibarengi pengungkapan masa lalunya sedikit demi sedikit, juga tak lepas dari keinginan terbesarnya yaitu membuat dirinya terkenal dengan kehancuran yang diciptakannya.

“Dia menganggap dirinya sendiri pencipta sekaligus perusak, tapi menyadari sejauh ini dia belum berhasil menciptakan sesuatu yang benar-benar mengguncang dunia, dan dia dihantui kemungkinan dirinya takkan pernah bisa. Bahwa kreativitasnya, maksimal, hanya termasuk golongan dua.” ~ Brady – h.160

Saya belum menonton filmnya, tapi rasa-rasanya dengan membaca saja, imajinasi dengan mudah memvisualisasikan ketegangan aksi Brady dan Hodges. Ketegangan yang ‘terpelihara’ karena Stephen King jago meredam kejutan dan mengurai simpul-simpul kasus dengan perlahan, sehingga tetap membuat pembaca penasaran. Rasa geregetan juga muncul setiap kali Hodges menebak-tebak pelaku, padahal Brady begitu dekat dan berseliweran di sekitarnya.

Bravo untuk seri pertama Bill Hodges dan sudah pasti menanti terjemahan aksi Hodges berikutnya, Finders Keepers.

Mr. Mercedes | Stephen King | Gramedia Pustaka Utama | 2017 ; 684 hlm | 3/5 bintang
Share:

Thursday, September 7, 2017

Pegunungan Tinggi Portugal


“Oleh orang yang ditinggalkan, setiap kematian akan dirasakan sebagai pembunuhan, sebagai perenggutan nyawa seseorang yang disayanginya secara tidak adil. Dan kita yang paling beruntung sekalipun akan bersinggungan dengan setidaknya satu pembunuhan dalam kehidupan kita; kematian kita sendiri. Itu takdir kita.” (Maria ~ h. 207) 

Saat kematian tiba menyela cinta yang teramat besar, maka kehilangan yang mendalam akan hadir. Konflik penerimaan diri atas rasa kehilangan menjadi tema utama ketiga kisah yang disampaikan Yann Martel. Kisah-kisah yang dituturkan dengan gaya bercerita yang berbeda. Meski begitu, ketiganya ‘kelak’ akan memiliki benang merah, sekaligus pesan yang membutuhkan pemikiran/perenungan yang tidak instan.

Tomas adalah tokoh sentral pada kisah pertama ‘Tanpa Rumah’. Kesedihan akibat kehilangan ayah, pasangan, dan anak, menciptakan ‘ide’ yang direalisasi dengan aksi berjalan mundur. “… berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkapkan duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?” ~ h. 21

Hingga, penemuan buku harian Bapak Ulisses ‘mencerahkan’ kesedihan Tomas, meski tidak menghapus jalan-mundurnya. Disebutkan sebuah benda telah dibuat oleh Bapak Ulisses, yang menginspirasi Tomas untuk melakukan misi perjalanan menemukan benda kuno tersebut. Sebuah perjalanan yang dianggapnya sebagai perlawanan kepada Tuhan. Sebuah pesan ceritanya yang mungkin terkesan ‘berat’, tapi diceritakan dengan gaya lucu nan satir.

Berlanjut ke ‘Menuju Rumah’, kisah kedua ini lebih terasa absurd. Dibuka dengan obrolan dokter patologi dan sang istri, Eusebio dan Maria, yang lebih tepatnya monolog Maria tentang kisah Yesus dalam Injil. Pemikiran nyleneh Maria ini coba menguraikan dan menganalogikannya melalui karya Agatha Christie. Mungkin agak membosankan, tapi tidak, bagi penggemar Agatha Christie karena analisa Maria tidak sekadar dibahas sambil-lalu.

“Kalau kita menempatkan misteri pembunuhan Agatha Christie di Injil dan menyorotinya, akan terlihat kesamaan dan kesesuaian, kesepahaman dan kesetaraan. Kita akan menemukan keserasian pola dan kemiripan narasi. Itu adalah peta ke kota yang sama, perumpamaan dari hal yang sama. Semuanya berpendar dengan transparansi moral yang sama.” ~ h.207. 

Alur kisah kedua ini menjadi lebih ‘naik’, saat kedatangan Maria, yang lain, membawa mayat suaminya untuk dibedah. Pembedahan yang diiringi cerita kehilangan dan kejutan di setiap pembedahan bagian tubuh sang suami. Kedua kisah awal ini berujung pada akhir cerita yang sama, yaitu kesedihan yang masih mengurung Tomas Eusebio.

Kisah ketiga berkisah tentang perjalanan Peter bersama simpansenya, Odo. Sepanjang perjalanan Peter mengamati perilaku simpanse sembari merenungi kehidupan dan keluarganya. “Nah, kalau begitu, kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapatkan perawatan balasan? Pikirannya tertuju pada momen ini, pada tugas di tangannya, pada teka-teki di ujung jemarinya.” ~ h. 358. Dan, kisah Peter dan Odo bisa dianggap sebagai kesimpulan dari kegelisahan-kegelisahan yang dituturkan pada dua kisah sebelumnya.

Buku ini berisikan metafora-metafora, dari pemahaman saya, yang menganalogikan tentang Tuhan, cinta dan kematian. Makna yang terkandung dalam ketiga cerita yang sebenarnya berkaitan ini tidak agak sulit diraih dalam sekali baca. Tapi, kunci dari keseluruhan cerita menurut saya, adalah kalimat terucap dari pesan Maria, istri sang patologi, “Iman adalah jawaban atas kematian.” ~ h.213.

Pegunungan Tinggi Portugal (The High Mountains of Portugal) |  Yann Martel |  Gramedia Pustaka Utama | 2017; 414 hlm | 4/5 bintang

Share:

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Ibu Pendidik Generasi Islam - “… mendidik seorang wanita itu sama saja dengan mendidik sebuah generasi.” ~ Prakata Penerbit Setinggi apapun pendidikan seorang anak, pengaruh besar...
    3 days ago
  • [Ngoceh Buku] Salju Part #3 - #IsiBuku *#SaljuOrhanPamuk* (209/731) . . Semakin berat makna isi dari pemikiran dan dialog Ka, tapi juga semakin menghanyutkan dalam pelitnya konflik. Ma...
    1 week ago
  • Ummu Salamah - “Di antara keutamaan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mereka lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” ~ h.19 Berpredikat Ummahatul ...
    3 weeks ago
  • Teruslah Bertanya … - #CeritaBuku #DuniaSophie ​[511/785] ‘Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa ...
    3 months ago

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20