Thursday, September 29, 2016

Break Shot #1

Penulis: Takeshi Maekawa
Penerjemah: Mohammad Ali
Cetakan: 2016
Tebal: 336 hlm
Bintang 3.5/5


“Permainan 9 ball adalah permainan  di mana cue ball ditembakkan ke objek ball (dari nomor terkecil) satu per satu sampai 9 ball. Dan orang pertama yang memasukkan 9 ball-lah pemenangnya.”

Permainan 9 ball mendominasi pertarungan Shinsuke Oda sepanjang cerita. Aksi pertama Oda dilakukan ketika melawan seniornya demi mendapatkan jatah anggaran klub. Pertandingan dimenangkan Oda dan membuat Osaka, sang ketua OSIS pujaan sekolah tertarik masuk ke klub biliar sekolah.

Semua aksinya dilakukan dengan fantastis dan tak jarang komentar WOW muncul. Aksi pinball ‘terbang’ tinggi atau clue ball (bola putih) pecah atau aksi ball kembali ke meja karena adanya hembusan AC agak sulit dicerna. Meski begitu, aura tegang dalam pertandingan dan rasa penasaran terkait strategi apalagi yang akan digunakan Oda atau lawan mainnya membuat cerita tetap seru.

“Kalau giliranku ini aku tak memasukkan bola, Kayama pasti akan menyelesaikan pertandingan ini sendiri! Kesempatanku hanya sekali ini!” (Oda) menjadi salah satu kalimat favorit untuk Oda untuk menciptakan efek tegang. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, setiap kali melihat Oda, otomatis akan terbayang wajah Chin Mi, kungfu boy.

Wednesday, September 28, 2016

Yotsuba & I #1

Judul: Yotsuba & I #1
Penulis: Kiyohiko Azuma
Penerjemah: Kanti
Cetakan: 2007
Tebal: 228 hlm
Bintang: 4/5


"Kalau ada anak yang menurutmu aneh, mungkin itu dia..." (Ayah)
Yotsuba!! Bocah perempuan yang penuh semangat ini sama sekali tidak aneh, malahan ya beginilah anak-anak, penasaran, tidak bisa diam, mengeksplorasi diri, berpikir kritis tanpa ribet. Kepindahan Yotsuba dan Ayahnya ke kota mempertemukannya dengan banyak hal dan benda-benda baru, bahkan ayunan adalah sesuatu yang baru dilihatnya. Adegan Yotsuba tertidur di kasur swalayan, salah satu bagian yang membuat bocah ini semakin menggemaskan.

Karakter lain yang kusuka, sudah tentu si Ayah yang bertampang lempeng dan Jumbo si Raksasa berleluhur jerapah (?) Tokoh aneh sebenarnya dalam buku ini, Jumbo. Jawaban-jawaban yang diberikan setiap kali orang berteriak, Raksasa! konyol tapi lucu. Jadi, makin penasaran dengan seri-seri selanjutnya. Yotsuba, aku padamu...

Monday, September 26, 2016

Kindaichi R #1

Penulis: Seimaru Amagi/ Fumiya Sato
Penerjemah: Anggie Virgianti
Cetakan: 2015
Tebal: 192 hlm
Bintang: 4/5


"Dilihat berapa kalipun, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan ada orang di sekitar pondoknya. Sampai aku ke sana untuk mengeceknya, sama sekali tidak ada tanda-tanda orang keluar atau mendekati pondok itu, Kumosawa menghilang bagai asap" (Kindaichi)
Perjalanan ski yang seharusnya menjadi menyenangkan, ternyata berbuntut pembunuhan beruntun. Kindaichi yang bekerja sebagai pekerja sambilan, mulai melakukan penyelidikan sesuai insting detektifnya. Penemuan teknik lempar golok dan peti mati yang dapat menghilangkan mayat menjadi sebagian pembuka kedok pembunuh. Kekhawatiran terungkap, pembunuh pun menyebabkan Nanase, menjadi korban aksi brutal.

Kasus Detektif Kindaichi memang lebih rumit dibandingkan Detektif Conan. Gambarnya yang terasa dark dan alurnya yang panjang membuat sensasi menegangkan lebih terasa dalam setiap pengungkapan bukti-bukti. Bagian yang membuat gemes, adalah akhir ceritanya yang menggantung bertepatan dengan mulai diungkapnya identitas pembunuh.

Sunday, September 25, 2016

Room

Judul: Room
Penulis: Emma Donoghue
Penerjemah: Rina Wulandari
Penerbit: NouraBooks
Cetakan: Pertama, Agustus 2016
Tebal: 420 halaman
Harga: Rp. 79.000 (Diskon di Toko Buku Online)
Bintang: 4/5


Manusia adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan interaksi yang memadai. Apa yang terjadi jika kebutuhan tersebut terenggut? Terpenjara dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter dengan stress yang berputar-putar di kepala tanpa bisa dikeluarkan dengan baik. Kondisi yang pasti menyesakkan dan dipenuhi keluhan bagi orang dewasa. Namun, kondisi ini menjadi sesuatu yang lain dan  menarik ketika diceritakan dari sudut pandang anak usia 5 tahun.

Room. Sebuah kamar tertutup, dihuni Jack dan ibunya tanpa pernah merasakan udara Luar. Keseharian mereka terbaca seru saat mulai memainkan imajinasi anak-anak. Eggsnake di kolong tempat tidur, Labirin dari karton tisu gulung, membuat trek lari dari benda-benda di ruangan, bermain tebak orkestra, dan permainan yang bisa dilakukan dengan barang seadanya. Ma berusaha membuat Jack tetap memiliki aktivitas, meski munculnya rasa stress tidak dapat dipungkiri terutama saat Ma mulai Hilang.

“Hanya karena kau belum pernah bertemu mereka, tidak berarti mereka tidak nyata. Ada lebih banyak hal di dunia daripada yang pernah kau bayangkan.” (Ma. 104)

Keseharian yang terkungkung di Kamar, menciptakan batasan dalam kepala Jack, bahwa segala yang ada di kamar adalah Nyata dan semua hal di TV adalah Tidak Nyata. Kamar adalah dunianya, bahkan di kemudian hari, saat bebas, Jack terkadang merindukan Kamar dengan ketenangannya. Salah satu tanya-jawab yang muncul di kepala Jack, adalah bagaimana Nick Tua membelikan kebutuhan mereka, apakah dia masuk ke dalam TV untuk membeli sesuatu di toko? Lalu, muncul lagi pertanyaan, apakah Nick Tua termasuk nyata atau tidak nyata?

Sampai suatu ketika Ma memiliki ide mengeluarkan mereka dengan mengandalkan Jack dalam gulungan karpet. Bukan aksi yang mudah, tapi mereka bebas dari Kamar dan bertemu dunia Luar. Kebebasan Ma dan Jack  ternyata menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi Jack. Dunia Luar yang dulunya terbayang menakjubkan, ternyata malah menerbitkan banyak kebingungan, bahkan terkadang menakutkan. Belum lagi, kondisi psikologis Ma yang ternyata belum stabil menghadapi serangan dunia Luar dan dirinya sendiri.

“Ini sebenarnya sulit,” “Ketika dunia kita adalah hanyalah tiga meter persegi, segalanya lebih mudah untuk dikendalikan. Banyak hal yang membuat Jack panik sekarang. Tapi aku benci cara media menyebutnya aneh, atau seorang pemuda idiot, atau liar, kata itu ____ ” (Ma – h. 296)

Saat Jack mulai memainkan logika sederhananya tentang segala yang ditemuinya di Luar, adalah bagian yang paling saya sukai. Meski terkadang muncul pertanyaan di kepala saya, bagaimana bisa anak usia 5 tahun bisa berpikir dan berargumentasi dengan sangat cerdas, kisah Ma dan Jack mengandung sinisme pada dunia terutama ketika mereka telah berada di Luar. Kepolosan dan pemahamannya yang masih sederhana membuat cara pandang Jack tanpa prasangka, sayangnya dunia tidak seperti itu, banyak hal yang dibuat berbelit karena banyaknya pertimbangan.

“Kami harus tinggal di dunia, kami tidak akan pernah kembali ke Kamar, kata Ma itulah yang akan terjadi dan aku harus senang. Aku tidak tahu mengapa kami tidak bisa kembali bahkan hanya untuk tidur.” (Jack – h. 236)

Semakin luas dunia yang dijejak, akan semakin banyak hal yang harus dipahami. Tidak ada kebebasan karena semua memiliki batasannya. Dunia Luar dan Kamar, sama-sama menjadi sesuatu, dimana Jack menuturkan banyak pertanyaan yang layak untuk ditanyakan kembali dalam benak masing-masing pembacanya. 

“Mengapa lebih baik di luar daripada di dalam? Ma mengatakan kami akan bebas tapi ini tidak terasa seperti bebas.” (Jack – h.321)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email