Tuesday, August 23, 2016

Belajar Membunuh dengan Pak Koro

Judul: Assassination Classroom #1 Waktu untuk Membunuh
Penulis: Yusei Matsui
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020259857
Bintang: 3/5

"Kalian harus membunuh dengan cara yang visa membuat senyuman pada wajah semua orang, dengan cara yang bisa membuat kalian sendiri bangga." ~ Pak Koro
Membunuh menjadi tugas siswa kelas 3E, sebuah kelas yang diajar oleh guru monster dengan banyak tentakel. Monster ini punya misi menghancurkan bumi pada Maret, tahun depan. Tapi, Pak Koro, nama guru monster ini, memberi kesempatan murid didiknya untuk membunuhnya.

Tema ceritanya unik---emang ada-ada aja komik jepang. Meski si guru menginginkan siswanya untuk membunuhnya, ada sisi yang menarik untuk dicermati karena si guru sering menyelipkan pesan dan didikan pada setiap siswanya. 

Karena temanya tentang pembunuhan, butuh isi kepala dewasa untuk mencerna makna sebenarnya di balik segala episode tembak-tembakan dalam kelas Pak Koro.

Friday, June 17, 2016

Segala Makhluk Besar dan Kecil

Judul: Segala Makhluk Besar dan Kecil
Judul Asli: All Creatures Great and Small
Penulis: James Herriot
Penerjemah: Lanny Murtihardjana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0976-7
Cetak: Pertama, 2014
Tebal: 640 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 88.000 (Diskon di Toko Buku Murah)




“Jika kalian memutuskan untuk menjadi dokter hewan, kalian takkan pernah kaya. Namun, kalian akan menjalani hidup penuh dengan hal-hal menarik dan beragam.” (Lelaki tua di depan kelas - h. 181)

Perkataan salah satu dosen James benar-benar terjadi. Profesinya sebagai dokter hewan ternyata tidak hanya memperlihatkan perilaku binatang dengan penyakit/kelahiran, tapi juga menuntunnya untuk banyak merasakan kejadian-kejadian di baliknya.

Banyak kejadian yang menarik selama dia menjadi asisten dokter Farnon dan sosok ini menjadi salah satu yang kunantikan ceritanya. Kisah Mr. Farnon bisa menjadi adegan yang memancing geli tapi sering juga menjengkelkan, terutama kalau sudah terkait dengan sifat pelupa akutnya. Mr. Farnon dengan kelabilan emosi dan ingatan, Tristan yang cuek, santai, tapi ‘takut’ dengan si kakak, dan Miss Harbottle, sekretaris yang memiliki ketelitian yang berbanding terbalik dengan si bos. Tiga karakter yang menyemarakkan klinik hewan Farnon.

“… hewan memang makhluk yang sulit ditebak, jadi seluruh hidup kita juga bakal sulit ditebak. Hidup ini tersusun dari sekian banyak kisah berisi kemenangan maupun kemalangan kecil. Kau harus benar-benar menyukainya untuk bisa tetap bertahan.” (Farnon – h.63)

James Herriot lumayan detail ketika menuturkan proses pemeriksaan, pengobatan, dan proses kelahiran dari hewan, efeknya, sering terasa menjijikkan ketika penuturan mulai dituangkan dalam imajinasi. Tapi, kejadian menjijikkan ini berhasil dibalut penulis dengan pandangan, kesan, dan tak jarang juga dengan humor sarkastis. Salah satu yang saya suka adalah saat Herriot menggambarkan suasana pedesaan Yorkshire dengan padang rumput dan hembusan angin segarnya.

“Aku baru melalui sepuluh menit yang menyebalkan dengan Rolston… Well, aku menghabiskan berjam-jam dengan hewan malang itu dan memberi mereka obat-obatan mahal… Dan sekarang dia mengeluh soal rekeningnya. Tak sepatah pun ucapan terima kasih..” (Herriot – h.92)

Dilema dengan profesi dokter hewan juga kerap memenuhi benak Herriot, saat di tengah malam bersalju menangani kelahiran sapi sembari membayangkan nyaman menjadi orang lain yang bisa hangat dalam dekapan selimut, atau saat dia tetap merasa tidak tahu apa-apa meski sudah melewati tahun-tahun pergulatan dengan hewan.

Tapi di sisi lain, terpercik rasa syukur dan kebahagiaan tersendiri, saat dia berhasil menyembuhkan atau menangani kelahiran. Bagian paling berkesan bagi saya adalah saat Herriot menangani seekor sapi --- saya lupa di peternakan siapa --- yang mengalami pembengkakan pada tenggorokan, seekor sapi yang ditangani dengan mati-matian karena melihat pemilik yang menaruh harapan besar hidupnya pada si sapi.

Kesalahan diagnosis pun pernah dialami Herriot dan berujung pada ‘ejekan’ dari si pemilik peternakan. Tapi, setiap kali melihat binatang ‘salah-diagnosis’-nya, Herriot semakin tahu bahwa dia adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan, manusia yang masih membutuhkan banyak ilmu dalam aktivitas dan kehidupannya.

“Aku … berusaha membayangkan pria tua itu bergumul dengan masalah-masalah yang kualami, melintasi jalan-jalan yang kulewati. Enam puluh tahun lamanya, dia melakukan semua itu sendirian. Aku baru memulai karierku, tapi aku sudah tahu sedikit mengenai kemenangan maupun kekalahan, rasa khawatir, pengharapan dan kekecewaan di dalamnya --- termasuk kerja kerasnya. Bagaimana pun, Mr. Grant sudah tiada, membawa serta semua keterampilan dan pengetahuan yang berusaha kukumpulkan dengan tekad kuat.” (Herriot – h. 553)

Wednesday, May 11, 2016

Misteri Patung Garam

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-708-86-3
Cetak: Pertama, 2015
Tebal: 276 hlm
Bintang: 3,5/5
Harga: Rp. 54.000 (Diskon di Toko Buku Online)



Sudah lama saya penasaran dengan Misteri Patung Garam, apalagi saat melihat rata-rata ulasan berbintang empat. Ditambah, saya suka sekali dengan desain sampulnya yang didominasi warna hitam, kalau figur mayatnya dilihat lama bikin deg-degan, sayang matanya tidak ditampilkan terbelalak sesuai dengan kondisi penemuan setiap mayat perempuan dalam cerita.

“Garam ada dalam darahmu. Dan, dalam darah mengalir dosa-dosa manusia. Itulah kenapa penyakit selalu menyerang darah. Maut selalu menguntit dosa.” (h.125)

Penemuan mayat perempuan yang berlumuran garam menggemparkan warga Surabaya. Pembunuhan ini membuat seorang inspektur polisi ketiban kasus yang melibatkan seorang psikopat sebagai pelaku. Kiri Lamari memulai penyelidikan dari sebuah simbol yang ditinggalkan di setiap korban. Seorang pembunuh sejati akan meninggalkan tanda dalam kegelapan.

Proses penyelidikan menggiring Kiri ke sebuah masa lalu kelam dengan dendam yang membutuhkan pelampiasan. Konflik tidak hanya berputar pada kasus pembunuhan, Kiri sendiri juga memendam kematian Ibunya yang tak bisa dilupakan. Kemarahan merenggangkan hubungannya dengan sang Ayah dan endapan masalah ini harus dituntaskannya sebelum Kiri kehilangan Kenes.

Saya suka dengan bagaimana pembunuh ‘menata’ korbannya, berseni tapi mengerikan, khas ‘karya’ seorang psikopat yang tidak beringasan. Sepanjang menelusuri kasus Patung Garam ini, saya kurang merasa greget dengan jalannya penyelidikan, mungkin karena ada selingan roman dan pergulatan dari masa lalu Kiri. Tapi, untuk  analisa dan kejutannya, sangat menarik. Bahkan sampai di lembaran terakhir, pembaca tetap disuguhi kejutan oleh penulis. Bisa jadi setelah membaca buku ini, kita akan lebih tahu tentang garam karena penulis pasti melakukan riset dan memperkenalkan garam yang tak sekadar sebagai bumbu dapur. Terakhir, saya suka Inspektur Saut dan ‘kampret rebus’nya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email